Mengagumi dalam Diam
Mengagumi adalah rasa yang bisa dibilang nggak enak atau lebih tepatnya sakit. Tapi apa daya, aku hanya bisa mengagumi. Seseorang yang kita kagumi belum tentu kagum dengan kita
Mengagumi adalah rasa yang bisa dibilang nggak enak atau lebih tepatnya sakit. Tapi apa daya, aku hanya bisa mengagumi. Seseorang yang kita kagumi belum tentu kagum dengan kita
Jadi inget sama janji-janji dia dulu yang begitu manis seperti gula. Ternyata janjinya sepahit kopi
Di desa itu, tak ada gedung sekolah. Hanya balai kecil bekas gudang padi yang disulap menjadi sebuah ruang untuk belajar. Tak ada papan tulis baru, hanya selembar tripleks hitam yang dipaku di dinding. Kapur habis digantikan dengan gamping. Tapi semangat yang lahir setiap sore tak pernah surut, mereka datang tanpa memakai alas kaki, tapi kepala penuh mimpi.
Mereka larut dalam pesta. Tak sadar, sebuah kamera merekam semua itu—gambaran ironis dari harapan indah di awal perkuliahan.
Ketika Ayah kembali ke kamar rumah sakit, aroma gurih mie ayam langsung memenuhi ruangan. Bima, yang tadinya terpejam, sedikit membuka matanya dan tersenyum. Aroma itu, aroma yang selalu ia dambakan dari jauh, kini nyata di hadapannya.
Tak kusangka, hari itu menjadi hari pertamaku menginjakkan kaki di tempat yang kerap mereka sebut sebagai “penjara suci.” Tanganku menggenggam erat tangan ibu. Perasaanku campur aduk. Takut, canggung, dan sedih. Karena aku tahu jika harus berpisah dari rumah yang telah membesarkanku
Kami terpaku. Syarif langsung menunduk, Abimanyu membeku, dan saya… saya merasa tenggorokan saya kering. Pak Jamal menyorot kami dengan senter, matanya menyipit.
Persahabatan sejati tidak selalu datang dengan perayaan besar atau kata-kata manis. Kadang, ia datang dalam bentuk kehadiran yang diam-diam, pelukan hangat di hari yang berat, atau tawa yang muncul tanpa alasan. Ia hadir dalam kesederhanaan yang tulus.