Spread the love

Senin. Hari yang katanya jadi awal segala niat baik: mulai hidup sehat, lebih disiplin, lebih rajin. Tapi seringnya, Senin justru berubah jadi ladang kekacauan paling tak terduga. Dan pagi itu, aku tak menyangka kalau sedang menuju salah satu versi kekacauanku sendiri.

Namaku Ara. Mahasiswi semester dua, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sayyid Ali Rahmatullah. Pagi itu aku bangun dengan semangat yang tidak biasa. Biasanya aku dan kasur adalah pasangan setia—pisah sebentar saja susah. Tapi kali ini, tanpa alarm, tanpa “snooze”, tanpa drama, aku terbangun. Jam menunjukkan pukul 04.16, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah “perkasuran” hidupku, aku langsung bangkit. Tanpa tarik selimut, tanpa rebahan tambahan lima menit yang sering jadi lima puluh menit.

Aku mandi, salat Subuh, lalu masak nasi goreng instan dengan dua potong sosis. Sederhana, tapi rasanya seperti chef yang sedang menaklukkan dunia kuliner. Sarapan sendirian di kos pada pagi buta itu terasa seperti pencapaian spiritual: tenang, damai, sekaligus dramatis.

Kulirik jam, baru pukul 06.15. Waktu seolah memberi ruang bernapas lega. Aku membatin, “Hari ini pasti berjalan mulus. Aku pasti menang.”

Kelas Madin hari itu bagiku terasa seperti misi besar. Dua hari sebelumnya aku tidak masuk karena sakit. Jadi pagi ini, semangatku mengalir deras seperti air kran lupa dimatikan: deras, bising, dan tak terbendung. Tepat pukul 07.12 aku pamit pada dinding kosan dan mulai melangkah. Jalan kaki, tentu saja. Aku memang belum bisa naik motor—bukan tidak mau, mungkin memang belum berjodoh dengan roda dua itu.

Tujuanku jelas: Gedung Prajna Paramitha.
Jaraknya lumayan jauh, tapi entah mengapa langkah kakiku terasa ringan seperti kapas tertiup angin. Jalanan masih sepi, langit belum sepenuhnya biru, udara segar belum tercemar kesibukan duniawi. Aku berjalan santai tapi mantap, layaknya tokoh utama film motivasi yang penuh optimisme.

Sampai di depan gedung, aku masuk tanpa ragu. Lift menungguku seperti sahabat lama yang paham lelahku. Aku naik ke lantai empat, seperti biasanya. Di sanalah ruang Madin, harusnya.

Tapi begitu pintu lift terbuka… sepi.
Tidak ada suara. Tidak ada tawa. Tidak ada riuh khas mahasiswa. Hanya lorong kosong dengan cahaya putih yang terlalu terang. Rasanya seperti masuk ke dunia alternatif, kampus versi paralel yang ditinggalkan penghuninya.

Aku mulai menyusuri lorong. Buka satu pintu, kosong. Dua pintu, masih sunyi. Tiga pintu, nihil juga. Pikiranku gaduh: “Apa aku salah jadwal? Salah waktu? Salah hidup?”

Jam tanganku menunjuk pukul 07.30.

Seketika langkahku terhenti ketika melihat seorang OB lewat, membawa keranjang pel. Ia sempat menatapku, mungkin kasihan melihat seorang mahasiswi berkeliaran seperti turis tersesat.

“Nyari kelas apa, Mbak?” tanyanya ramah.

“Pasca Fuad 1,” jawabku cepat, sedikit panik, seperti anak kecil kehilangan ibunya di pasar.

Beliau mengangguk pelan. Katanya, kelas Pasca biasanya ada di lantai dua atau tiga—tempat mahasiswa skripsi biasa nongkrong sambil pura-pura mikir serius. Ia menyarankan aku hubungi teman sekelas, lalu melanjutkan pekerjaannya dengan wibawa seorang pahlawan kebersihan.

Aku pun menuruni tangga menuju lantai tiga. Tapi baru sampai anak tangga ketiga, langkahku berhenti.
Deg.

Ada yang janggal. Tapi bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalaku.

Aku terdiam. Lalu sadar. Aku salah gedung.
Bukan salah lantai, bukan salah ruang. Tapi salah gedung.

Astaga. Kenapa otakku bisa tertukar pagi ini? Seharusnya aku ke Gedung Pascasarjana, bukan Prajna Paramitha. Namanya mirip, tapi fungsinya jauh berbeda. Yang satu tempat Madin, yang satu tempat para pejuang skripsi yang menyimpan stres di balik senyum tipis.

Aku terduduk di kursi dekat tangga. Dunia rasanya berhenti sejenak. Antara ingin menertawakan diri sendiri atau mengetok kepala pakai buku jadwal. Semangatku yang tadi berkobar seperti api unggun kini meredup, tinggal bara kecil seperti lilin kehabisan oksigen.

Jam menunjukkan pukul 08.09.
Kelas Madin berakhir pukul 08.30. Gedung Pascasarjana letaknya jauh, harus memutar lewat gerbang depan. Kalau jalan kaki sekarang? Mustahil. Sampai sana mungkin tinggal salam penutup.

Hari ini gagal.
Gagal mengejar kelas. Gagal menebus absen. Gagal jadi mahasiswa produktif seperti di film-film motivasi.

Aku hanya bisa duduk, diam, lalu tertawa kecil. Salah gedung. Salah arah. Gagal Madin.

Tapi setidaknya, hari itu tidak sepenuhnya sia-sia. Karena dari kesalahan kecil itu, aku belajar satu hal penting: Semangat saja tidak cukup. Kadang, kita juga butuh arah yang benar.

Penulis: Mega Yati Karya Ningtia
Domisili: Tulungagung, Jawa Timur
Instagram: @mgyti2
Editor : Deni Iska Dian Nita

Back To Top