Tak Terduga : Kumpulan Puisi Luthfiyah Az Zahra’ Qurrata A’yun
Langkah berlalu melampaui batas
Badan terhuyung mengitari rasa
Mengusung unjuk demokrasi nyata
Yang mengapung dalam retorika
Langkah berlalu melampaui batas
Badan terhuyung mengitari rasa
Mengusung unjuk demokrasi nyata
Yang mengapung dalam retorika
Bangku kosong di sebelahku bukan lagi sekadar bangku. Ia menjadi nisan sunyi dari sebuah pertemanan yang tak sempat tumbuh sempurna. Dan aku… kembali menjadi bayangan dari kesalahan yang tak pernah bisa kuhapus.
Aku mendengarkan. Seperti biasa. Selama satu setengah jam, aku mendengar tangisannya, kemarahannya, kecewaannya. Aku memberi saran yang sama seperti tiga bulan lalu ketika mereka putus—sebelum akhirnya balikan lagi. Aku bahkan melucu agar dia tertawa sebentar.
Tak membawa banyak kata.
Hanya telinga yang siap mendengar.
Sedia mengusap airmata.
Dipersilahkan bahu tuk bersandar.
Aku terdiam cukup lama mendengarnya. Di tengah dunia yang sering menilai cinta dari harta, gelar, atau status sosial, kisah ibu ini terasa seperti pengingat kecil bahwa cinta sejati tidak tumbuh dari siapa yang lebih tinggi, tapi dari siapa yang bersedia berjalan searah beriringan.
Arlan hanya bisa menghela napas, bibirnya membentuk garis tipis. Ia sudah merangkai meme kucing menangis itu dengan rapi, label “MY KISAH” tertempel di setiap bingkai. Itu adalah cara Arlan menertawakan kemalangannya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan yang pahit.
Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti batu besar yang menghantam dada Alex. Ia berusaha tersenyum, meski matanya nyaris basah.
Fay terdiam. Ia memandang wajah kedua orang tuanya. Raut lelah dan khawatir tak bisa disembunyikan. Fay adalah anak yang memiliki empati tinggi. Melihat beban di pundak Ayah dan Ibunya jauh lebih menyakitkan daripada melepas mimpinya sendiri.
Siapapun tak akan menyangka akan datangnya cinta yang mungkin secara tiba-tiba. Cinta adalah fitrah manusia, tetapi bagaimana manusia mengelolanya akan menentukan apakah ia mendatangkan berkah atau justru menjauhkan dari Allah. Di era modern ini, banyak anak muda yang merespons perasaan itu dengan cara yang sering kali kurang tepat. Mereka akan menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda….