Panggung Rahasia Dibalik Mimpi
Mimpi adalah seni malam yang tak ternilai untuk diri kita sendiri yang penuh privasi.
Mimpi adalah seni malam yang tak ternilai untuk diri kita sendiri yang penuh privasi.
Sore itu, sepulang sekolah, Adel melewati sebuah rumah tak berpenghuni. Rumah itu sudah bertahun-tahun ditinggalkan pemiliknya karena sering terjadi kejadian aneh dan penuh teror. Entah mengapa, Adel berhenti cukup lama di depan rumah itu, pandangannya tertuju pada salah satu jendela.
Bekerja adalah fitrah manusia. Bahkan dalam kitab-kitab suci, bekerja adalah bagian dari pengabdian. Maka bekerja dengan profesionalisme dan tanggung jawab mestinya tidak perlu lagi dibalut dengan kalimat motivasi setiap saat. Jika kita sudah memahami bahwa bekerja adalah bentuk ibadah, maka mestinya kita tidak perlu memilih-milih beban kerja yang datang
Sementara itu, teman yang lain mulai sangat ketat urusan makan. Semua yang mengandung tepung-tepungan, apalagi tepung terigu, dianggap musuh paling berbahaya. Ia mulai mengganti semua camilan dengan buah potong dan ubi rebus, kalaupun ingin makan kue, berarti bahan dasarnya harus dari tepung beras atau sagu.
Bagi saya, titik tertinggi dalam menulis bukanlah trofi atau sertifikat penghargaan. Bukan pula posisi sebagai juara satu, dua, atau tiga. Tapi ketika tulisan itu berdampak. Ketika ia menyentuh, menginspirasi, atau menjadi jembatan kesadaran bagi orang lain, maka saat itulah kita benar-benar menjadi penulis yang utuh.
Ketika ada yang tidak disiplin, justru yang disiplinlah yang kerap kali jadi korban. Ironisnya, yang seharusnya dihargai karena taat prosedur justru sering kali harus menanggung akibat dari kelalaian orang lain.
Banyak orang bilang manusia bisa mengubah takdirnya, tetapi bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bentuknya saja belum diketahui? Katanya, hasil akan sebanding dengan usaha, tapi saya belum pernah benar-benar merasakannya.
Bertanya pandangan saya terhadap seseorang yang bahkan saya tidak tahu dia ada di dunia ini, bagi saya itu merupakan kekonyolan “kelas wahid”. Apalagi hanya menunjukkan sebuah foto dan bertanya pandangan saya terhadap dia. Pasti ada dua kemungkinan, pertama sengaja “pamer” dan yang kedua saya dianggap “peramal”.
Apapun yang terjadi di tempat A atau B, saya selalu ucapkan kata “bah”. Mendengar cerita menjengkelkan dari teman-teman di tempat A, saya cukup berkata “bah”. Mendapat informasi dan formasi terbaru dari teman-teman di tempat B, saya juga cukup berkata “bah”.
Grup kelas yang biasanya sunyi seperti tidak memiliki anggota hari ini gaduh seperti perang. Salah satu siswa mengatakan seperti mau perang. Ada juga yang mengatakan “Pemilihan tempat PKL lebih penting daripada war tiket”.