Antara Restu dan Harapan yang Belum Ada Jawaban
Saya telah melewati jalan yang tidak mudah. Jalan yang dipenuhi rasa senang, cinta, marah, bahkan kecewa. Ini bukan cerita terbaik. Tapi, cukup. Ya, cukup untuk jadi bekal tumbuh.
Saya telah melewati jalan yang tidak mudah. Jalan yang dipenuhi rasa senang, cinta, marah, bahkan kecewa. Ini bukan cerita terbaik. Tapi, cukup. Ya, cukup untuk jadi bekal tumbuh.
Banyak orang bilang manusia bisa mengubah takdirnya, tetapi bagaimana caranya mengubah sesuatu yang bentuknya saja belum diketahui? Katanya, hasil akan sebanding dengan usaha, tapi saya belum pernah benar-benar merasakannya.
Batu itu seperti ujian kecil yang dikirim hidup, tapi saya tidak menjawabnya dengan bijak. Seharusnya saya bangkit, membersihkan luka, dan menatap ke depan. Tapi saya malah membuang batu itu dan lanjut berjalan tanpa pelajaran
Apapun yang terjadi di tempat A atau B, saya selalu ucapkan kata “bah”. Mendengar cerita menjengkelkan dari teman-teman di tempat A, saya cukup berkata “bah”. Mendapat informasi dan formasi terbaru dari teman-teman di tempat B, saya juga cukup berkata “bah”.
Meski jauh dari keluarga dan hidup dalam keterbatasan, saya selalu membawa Desa Lawak dalam hati. Suara jangkrik malam dan aroma tanah basah di musim hujan selalu saya rindukan. Saya tahu bahwa jalan hidup masih panjang. Tapi saya percaya, setiap langkah yang saya ambil, sekecil apapun itu, adalah bagian dari rencana besar Tuhan.
Grup kelas yang biasanya sunyi seperti tidak memiliki anggota hari ini gaduh seperti perang. Salah satu siswa mengatakan seperti mau perang. Ada juga yang mengatakan “Pemilihan tempat PKL lebih penting daripada war tiket”.
Di dunia yang semakin tua dan penuh godaan ini, saya merasa perlu menambatkan diri pada sesuatu yang lebih bermakna, lebih ukhrawi. Saya khawatir, jika tidak memiliki pijakan spiritual yang kuat, saya akan hanyut dalam arus pergaulan yang kian mengkhawatirkan
Wahai engkau yang sukanya baper marilah kita belajar sedikit cuek, karena hidup tak perlu selalu dibawa perasaan, kadang cukup dibawa tertawa.
Pernahkah kalian berpikir bahwa kuliah itu merupakan sebuah privilege (keistimewaan) yang tidak dimiliki semua orang? Kalau iya, berarti saat ini kita sedang memikirkan hal yang sama.